pulau nangka

Pulau ini terletak di antara pulau bangka dengan pulau sumatra,dihuni sekitar 100KK lebih.Pulau ini masih sangat alami dan memiliki pantai yang sangat indah

Selasa, 20 Maret 2012

Pantai Perigi Kapal


Pantai yang cukup panjang  ini terletak tidak jauh dari rumah warga,sekitar  15 menit dengan berjalan kaki. Keunikan pantai ini apabila kita berjalan pasirnya akan berbunyi cukup nyaring. Pantai ini juga  memiliki goa,kolam,dan pondok untuk istirahat.   





Selasa, 06 Maret 2012

Pulau Nangka Tanah yang Suci




Inilah sisi lain kelebihan dari pulau nangka selain memiliki pantai dan pepohonan yang indah tanah pulau Nangka bebas dari hewan yang haram bagi umat Islam yaitu babi dan anjing.


 Pulau yang penduduknya 100% beragama Islam ini memang terasa sangat istimewah tak seperti kebanyakan pulau yang lainnya. Tidak diketahui secara pasti kenapa hewan tersebut tidak pernah ditemukan di pulau ini padahal pulau nangka memiliki hutan yang sangat lindung dan cukup luas yang biasa dihuni hewan seperti babi. Mungkin Allah memang tak mengizinkan hewan tersebut hidup di pulau ini. 








Rabu, 26 Oktober 2011

Pulau Pelepas


Apabila anda berkunjung ke pulau nangka jangan ragu untuk mampir kepulau yang satu ini kira – kira butuh waktu 15 menit dari pulau nangka  untuk sampai di pulau yang indah ini menggunakan motor  laut .dijamin setelah sampai anda tidak bakalan  menyesal untuk datang ke pulau ini. tidak hanya indah pulau ini penuh dengan sejarah.








pemandangan dari atas menara


Selasa, 18 Oktober 2011

Indahnya Pantai Pasir Kulek


Pantai  ini memiliki pasir putih dan air yang jerni,pantai ini terlihat sepi hanya ramai ketika hari raya dan hari-hari tertentu,mungkin karena pantai ini jauh dari perkampungan warga pulau ini.setelah sampai di pantai ini rasanya gak mau pulang,lihat saja fotonya di bawah ini :





benar-bener indah kan.

Jumat, 14 Oktober 2011

Nganggung Setelah Selesai Sholat Ied ~ CYBERBANGKA

Nganggung Setelah Selesai Sholat Ied ~ CYBERBANGKA

Mencari Wak Wak di Pulau Nangka


        Wak Wak atau cacing laut yang dalam bahasa latinya bernama moduca ini tidak asing lagi bagi warga Pulau Nangka,hewan yang berbadan  lembut dan berbau amis ini tidak hanya di konsumsi warga namun juga dijual.
sumber foto:cetak.bangkapos.com

Menangkap hewan ini sebenarnya gampang – gampang susah,bagi yang sudah biasa menangkap hewan ini biasanya bisa mendapat ratusan dalam sekali menangkap,tapi yang belum pernah biasanya akan terasa susah untuk mendapatkannya,memang perlu keahlian khusus dan kesabaran.
  
Mencari cacing ini baru bisa ketika air laut sedang surut karena hewan ini hidup di pasir pantai,warga pulau nangka mencari wak wak ini di sebelah timur pulau ini.biasanya hanya kalangan ibu – ibu mencari hewan ini.

Menurut cerita warga awal mula wak wak ini di kenal warga pualu nangka setelah ada seorang peneliti yang datang ke pulau ini untuk meneliti wak wak tersebut.dari situlah warga mengenal wak wak dan cara menangkapnya.

Untuk menangkapnya biasanya warga menggunakan seutas rotan untuk dimasukan di dalam tempat persembunyiannya,kalau terasa bergarak itu bertanda wak waknya ada di dalam tempat itu.

Untuk menghilangkan bau amis wak wak ini sebelum di konsumsi atau dijual terlebih dahulu di jemur dalam waktu sekitar setengah hari di bawah sinar matahari yang sangat panas,sebelum di jemur wak wak ini harus dibalik tubuh bagian dalamnya untuk membersihkan kotoran yang ada dalamnya.untuk mengkonsumsinya biasanya cukup di goreng atau di tumis rasanya sangat gurih.
bagi yang penasaran datang saja ke pulau ini,hhe


Selasa, 11 Oktober 2011

Pembangunan Poskesdes di Pulau Nangka

-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, melalui anggaran APBN sebesar Rp300 juta akan mendirikan pos kesehatan desa (Poskesdes) di Pulau Nangka yang merupakan salah satu pulau terpencil.

Kabid Bina Program Dinas Kesehatan Bangka Tengah, Fajri, di Koba, Jumat, menyatakan, pembangunan Poskesdes di pulau terpencil itu, dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat setempat.

Bangka Tengah telah memiliki 30 Poskesdes, 17 Puskesmas Pembantu (Pustu) dan tujuh Puskesmas. Fasilitas Poskesdes memberikan pelayanan kesehatan persalinan termasuk penyakit malaria dan demam berdarah yang rawan terjadi saat musim hujan.

Ia menjelaskan, Pulau Nangka berpenduduk kurang lebih 400 jiwa dan 108 kepala keluarga (KK), membutuhkan pelayanan kesehatan dari tenaga bidan yang terlatih yang ditempatkan di Poskesdes.

Menurut dia, Poskesdes yang akan dibangun terdiri dari dua bangunan yakni bangunan pelayanan kesehatan dan bangunan rumah dinas tenaga kesehatan.

Tenaga bidan yang ditempatkan di Poskesdes, kata dia, merupakan warga asli Pulau Nangka yang disekolahkan oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah untuk mendapatkan pendidikan kebidanan.

"Untuk mencari bidan yang mau bertugas di Pulau Nangka sangat sulit maka kami mengeluarkan solusi untuk menyekolahkan satu orang warga Pulau Nangka yang memiliki kemampuan untuk bersekolah kebidanan," katanya yang menyatakan warga Pulau Nangka yang telah menjadi bidan bernama Umi Kalsum.

Menurut dia, dengan tersedianya bidan yang berasal dari penduduk asli Pulau Nangka, secara otomatis pelayanan kesehatan akan lebih maksimal.

Menurut dia, ke depannya berbagai fasilitas kesehatan akan terus dibangun oleh pemerintah daerah menggunakan dana pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

"Kami mengupayakan agar fasilitas layanan kesehatan dapat terus dibangun terutama di daerah kepulauan dan di pelosok desa, sehingga masyarakat dapat menikmati pelayanan kesehatan seperti warga masyarakat di perkotaan," katanya.

Seperti diketahui, Poskesdes merupakan pelayanan yang meliputi upaya-upaya promotif, preventif, dan kuratif yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan (terutama bidan) dengan melibatkan kader atau tenaga sukarela Iainnya.

Kabupaten Bangka Tengah yang memiliki luas 2.155,77 kilometer atau 215.577 hektar dengan sebelah Timur berbatasan dengan Laut Cina Selatan dan sebelah Barat berbatasan dengan Selat Bangka dan garis pantai 195 kilometer dikelilingi oleh 12 pulau-pulau kecil antara lain Pulau Nangka, Semujur, Ketawai, Bubuar, Busung Asam dan beberapa pulau kecil lainnya.

Dan diantara beberapa pulau tersebut, Pulau Nangka dan Pulau Semujur merupakan pulau yang memilik penduduk yakni sebanyak 108 kepala keluarga di Pulau Nangka dan 40an kepala keluarga mendiami Pulau Semujur.

sumber: www.sigapbencana-bansos.info

Makam Belanda di Pulau Pelepas

Bukti bahwa Pulau Pelepas yang dalam peta navigasi tertulis dengan nama Pulau Nangka ini pernah dihuni oleh orang Belanda adalah dengan ditemukannya seonggok makam bertuliskan nama seorang Belanda yang meninggal 15 April 1894. Orang ini disebut-sebut sebagai petugas yang menunggu mercusuar yang terdapat di puncak bukit Pulau Pelepas.

Selain makam Belanda, paling tidak terdapat empat makam lainnya di Pulau Pelepas. Dua di anataran makam seorang perempuan dan anak-anak berkebangsaan Indonesia. Perempuan dan anak-anak ini merupakan istri dan anak petugas penjaga mercusuar yang wafat di tempat itu di era setelah kemerdekaan.

Pulau Pelepas juga disebut oleh masyarakat dengan nama Pulau Lampu. Dinamakan demikian karena dari pulau tersebut terpancar cahaya lampu sebagai penerangan bagi pelayaran di Selat Bangka, laut yang terletak di antara pulau Bangka dan Sumatera.

Cahaya lampu tersebut berasal dari sebuah mercusuar kuno yang telah ada sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda. Bangunan yang dinamakan Mercusuar H.M. Koningin Wilhelmina ini dibangun pada tahun 1893. Itu yang terpampang pada plakat besi yang menggantung di pintu Mercusuar.

Tinggi Mercusuar ini sekitar 50 meter atau 60 meter dari permukaan air laut. Dari puncaknya kita dapat melihat pemandangan laut yang luar biasa indah. Bahkan dari ketinggian menara, kita juga dapat memandang sebagaian pesisir Pulau Bangka.

Pulau Pelepas dan mercusuarnya menjadi daya tarik wisata tersendiri. Meskipun demikian, pemerintah setempat belum mengeksplorasinya dengan baik. Termasuk terhadap sejumlah makam kuno di dalamnya, terlantar begitu saja.


Sumber : bangkapos.com

Sabtu, 20 Agustus 2011

Pondok Wisata di Pulau nangka

Koba, Bangka Tengah, 25/1 (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, pada 2011 akan membangun dua unit pondok wisata di dua pulau terpencil untuk menyediakan fasilitas wisata bagi para wisatawan yang berkunjung ke daerah itu.

"Dua pondok wisata yang masing-masing akan menelan anggaran Rp114 juta ini dibangun di Pulau Semujur dan Pulau Nangka berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Bangka Tengah," ujar Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Tengah, Robain Zul, di Koba, Selasa.

Menurut dia, pondok wisata tersebut nantinya juga berfungsi sebagai tempat peristirahatan para nelayan yang sedang melaut, terutama saat menghadapi gelombang tinggi dan angin kencang yang membahayakan keselamatannya.

"Pembangunannya akan segera direalisasikan dalam waktu dekat agar pondok wisata dapat difungsikan sesegera mungkin, sekaligus merealisir program kepariwisataan daerah yang potensinya cukup besar," ujarnya.

Ia mengatakan, dengan dibangunnya pondok wisata diharapkan dapat menciptakan minat masyarakat lokal maupun pendatang untuk berwisata di dua pulau tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah penduduk Pulau Semujur yang mayoritas suku Buton dan berprofesi sebagai nelayan, kurang lebih 400 jiwa. Sebanyak 50 Kepala Keluarga (KK) menetap di Pulau tersebut.

Pada 2009 di Pulau Semujur telah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah sehingga suasana pulau pada malam hari tidak gelap gulita.

Keindahan panorama laut yang terpampang di hadapan pulau dan beragamnya aneka ikan laut menjadikan pulau ini sering menjadi tujuan wisata masyarakat lokal untuk menginap sembari memancing ikan bersama keluarga.

Kabupaten Bangka Tengah memiliki luas 2.155,77 kilometer atau 215.577 hektar dikelilingi oleh 12 pulau-pulau kecil dengan panjang garis pantai kurang lebih 195 kilometer.

Sebanyak 12 pulau terdiri dari Pulau Bebuar, Pulau Panjang, Pulau Panjang, Pulau Pelepas, Pulau Ketawai, Pulau Semujur, Pantai Keranji, Pantai Tanah Merah, Pantai Batu Belubang, Pantai Kedimpel, Pantai Penyak, Pantai Karang Jahe, Pantai Tanjung Langka dan Pantai Batu Beriga.

sumber : bangkatengahkab.go.id

Kamis, 18 Agustus 2011

Kebanjiran Udang

Beberapa hari yang lalu Nelayan pulau nangka mendapatkan udang yang cukup banyak,dalam sehari ada yang mendapatkan 30,40 bahkan ada yang 80 kg.namun ada juga nelayan yang kurang beruntung.mungkin sudah rezeki masing-masing.hehe

Rabu, 22 Desember 2010

Anggota DPD RI asal Bangka Belitung Noerhari Astuti kunjungi warga Pulau nangka


Pulau Nangka - Noerhari Astuti Anggota DPD RI asal Bangka Belitung prihatin terhadap nasib masyarakat di daerah terpencil. Untungnya pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten cukup memberi perhatian dengan melaksanakan program pengobatan gratis.

"Mudah-mudahan program pemerintah untuk masyarakat di desa terpencil tidak hanya dilakukan sesekali saja, namun dapat dilakukan secara berkesinambungan," harapnya saat berkunjung ke Dusun Pulau Nangka, Desa Tanjung Tedung, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis 28 Oktober 2010.
Kunjungan ini bertujuan untuk mensosialisasikan hasil amandemen Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, kunjungan yang di dampingi H Marwan Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan tenaga kesehatan, ini dilakukan guna melihat keadaan pendidikan di pulau terpencil.
"Hari ini saya telah melihat kondisi masyarakat. Diharapkan ke depan, masalah pendidikan maupun masalah kesehatan di daerah dapat lebih baik lagi," harap Noerhari.
Jarak Desa Tanjung Tedung dari Kota Pangkalpinang sekitar 70 km atau sekitar satu jam perjalanan darat. Selanjutnya dari Desa Tanjung Tedung untuk menuju Dusun Pulau Nangka harus melalui jalur laut dengan menggunakan perahu nelayan dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.
Meskipun harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, namun tidak menyurutkan semangat Noerhari beserta rombongan untuk dapat melihat dan mendengarkan keluhan dan aspirasi masyarakat di dusun tersebut. Sesampai di Dusun Pulau Nangka, rombongan langsung disambut masyarakat dengan penuh keceriaan dan kegembiraan.
Tepatnya di SD 3 Dusun Pulau Nangka, Kecamatan Sungai Selan, Noerhari menyempatkan diri berdialog dengan guru, murid beserta masyarakat untuk mendengar aspirasi masyarakat. Kemudian dilanjutkan melihat tenaga kesehatan melakukan pengobatan gratis bagi masyarakat setempat. Berkat kesetiaan untuk mengabdi dan mendidik masyarakat di Pulau Nangka, Pellia Kepala Sekolah SD 3 mendapat umroh gratis dari Noerhari.
Neorhari berharap agar di Dusun Pulau Nangka dapat dibangun Polindes, karena jumlah penduduk di daerah ini sudah banyak. Tak hanya itu, hendaknya dilakukan pengangkatan guru untuk ditempatkan di dusun tersebut. Dalam bekerja harus penuh tanggung jawab, karena tugas guru untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa.
"Mari kita sama-sama membangun bangsa ini agar kita tidak tertinggal dengan bangsa lain," harapnya.
Sarana dan prasarana pendidikan di Pulau Nangka sudah cukup baik. Dikatakan Noerhari, bangunan sekolah sudah cukup baik, bangku-bangkunya juga sudah baik. Namun hanya tenaga pengajar/gurunya saja yang masih kurang, seperti guru SLTP hanya satu orang untuk mengajar tiga kelas, mulai kelas satu sampai kelas tiga.
"Jika hanya ada satu guru, terus bagaimana mendidiknya. Jadi saya minta perhatian dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi agar dapat lebih diperhatikan nasib para guru di daerah terpencil, baik guru PNS maupun guru honor," jelasnya.
Perlu dilakukan pemberian reward atau penghargaan kepada tenaga pengajar yang mengabdi di daerah terpencil. Ia menambahkan, pengangkatan tenaga guru tersebut menjadi PNS bisa dipercepat jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Tak hanya itu, kesejahteraan tenaga guru juga harus diperhatikan dengan meningkatkan pemberian insentif. Hal ini dengan pertimbangan tidak semua orang suka tinggal di daerah pulau, mengingat jaraknya jauh dan banyak risiko.
Untuk itu, jelasnya, para guru di daerah terpencil harus diberikan penghargaan dan diperhatikan finansialnya. Sehingga tenaga pendidikan itu bisa lebih sejahtera dan betah berada di daerah terpencil. Dampak positifnya, anak di pulau terpencil juga bisa menjadi anak yang cerdas.
"Para guru di daerah ini agar dapat bersabar. Mudah-mudahan cita-cita kalian dan kehendak kalian dapat tercapai. Selain itu harapan murid dan masyarakat yang ada di Pulau Nangka dapat terwujud," harapnya.
 
 

Rabu, 02 Juni 2010

berkunjung ke pulau nangka

Pulau ini dibandingkan dengan pulau lain yang ada di Kabupaten Bangka Tengah lebih panjang 6 KM terletak di Kecamatan Sungai Selan antara pulau Bangka dan Pulau Sumatera. Pulau Nangka ini dihuni oleh 70 kepala Keluarga, dengan panorama pasir putih dan bebatuan yang indah juga banyaknya burung- burung yang beraneka ragam, bagi yang ingin berkunjung bias mengunakan perahu atau spetboat dari desa Sungai Selan dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam atau lewat Dusun Tanjung Tedung Kecamatan Sungai Selan 20 Menit mengunakan perahu atau spetboat.

Dusun Pulau Nangka Desa Tanjung Tedung Kecamatan Sungaiselan Kabupaten Bangka Tengah tahun ini bakal mendapat bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bangka Tengah.

Bantuan PLTS tersebut memiliki kapasitas 3.000 watt untuk memenuhi kebutuhan penerangan 77 KK warga setempat. Diharapkan dengan adanya bantuan tersebut Pulau Nangka tahun ini dapat terang benderang pada malam hari.

Camat Sungaiselan, Masagus Imron kepada harian ini mengungkapkan untuk PLTS tersebut diperkirakan akhir tahun 2009 ini sudah dapat dinikmati warga Pulau Nangka.

"Kita perkirakan sebelum puasa tahun ini Pulau Nangka sudah terang benderang. Kita berharap masyarakat setempat dapat memelihara PLTS bantuan tersebut dengan sebaikbaiknya karena untuk bantuan ini masyarakat setempatlah yang selanjutnya akan mengelolahnya," ungkap Masagus Imron, Rabu (15/4).

Menurutnya hingga saat ini di Kecamatan Sungaiselan baru sekitar 70 persen warga yang menikmati listrik dari PLN. Sedangkan sekitar 30 persen warga lainnya masih mengandalkan penerangan dari genset dan mesin diesel.

"Seperti Desa Kerakas, Tanjung Tedung, Kemingking dan Kerantai itu hingga saat ini masih mengandalkan penerangan dari diesel dan genset," jelas Masagus Imron.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi warga Kecamatan Sungaiselan berdasarkan catatan harian ini dari tahun 2006, mendapatkan bantuan PLTS ini dari pemerintah Provinsi Babel.

Bantuan dari Pemrov babel tersebut diberikan untuk warga Desa Munggu sebanyak tiga unit PLTS.

Sementara untuk tiga dusun terpencil yaitu Dusun Pulau Nangka, Tanjung Tedung dan Pangkalraya pada saat masih bergabung dengan Kabupaten Bangka Induk pada tahun 1995 lalu pernah mendapatkan ?Xbantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Di Pulau Nangka ini anda bisa menyewa perahu untuk menyalurkan hobi memancing anda. Ikan diperairan sungaiselan ini terkenal dengan rasanya yang gurih. Selamat rekreasi saja buat sobat-sobat cyberbangka.


sumber : cyberbangka

Masjid Al-Mujahidin Pulau nangka di resmikan gubernur

Pembangunan masjid Al-mujahidin Pulau Nangka yang menelan dana sebesar RP. 80.000.000, diresmikan Oleh Gubernur prov.Bangka Belitung Ir . H. Eko Maulana Ali kemarin , minggu 21 Maret 2010. Peresmian Masjid Al-Mujahidin ini di tandai dengan pemukulan beduk. Masjid ini bisa terbangun dikarenakan baiknya tali silaturrahim yang terbangun  diantara masyarakat pulau nangka, sehingga barokah dari Allah SWT bisa turun kedusun pulau Nangka ini, ujar Eko dalam sambutannya, ia juga mengingatkan agar masyarakat dipulau nangka ini jangan saling pendendam karna perbuatan seperti itu hanya akan menghalangi pahala dari Allah SWT, sambil membacakan Firman Allah sebagai dalil ucapannya.
 Foto 1  Foto 2
 Foto 3  Foto 4
Selain itu Gubernur juga mengatakan bahwa terbangun nya masjid ini menunjukkan  masyarakat disini sudah sadar bagaimana membangun sebuah Negara yang kuat. Dalam membangun Sebuah Negara Ada 4 (empat) komponen yang harus bersatu.
Komponen pembangunan disini harus kompak ,mulai dari ulama ,pemerintah, pengusaha dan masyrakat, kalau kompak maka ridho Allah pasti akan didapat, tapi kalau bercerai berai apalagi memutuskan tali silatur rahim, maka malapetaka, bala dan bencana justru yang akan didapat masyarakat didusun pulau nangka ini.
Oleh karena itu masjid ini harus dimakmurkan , jadikan masjid ini selain tempat untuk beribadah juga sebagai tempat untuk pendidikan dalam mencerdaskan umat, kegiatan sosial kemasayarakatan, dan juga tempat untuk bermusyawarah dalam menyusun rencana pembangunan dusun ini, mulailah dari masjid ini sebagai sarana untuk mempersatukan komponen pembangunan tersebut , harap Gubernur dalam tausiah nya dihadapan ratusan masyarakat dusun pulau nangka.
Sementara itu Kadus pulau nangka Ishar dalam sambutannya mengatakan bahwa mereka seakan bermimpi kedatangan pemimpin tertinggi di Provinsi ini. Kami menyadari bagaimana sibuk dan padatnya acara bapak Gubernur, tapi ditengah kesibukan itu Bapak Gubernur masih mau menyempatkan diri datang kedusun kami yang terpencil seperti ini. Terus terang saja selama ini para pejabat jarang sekali mau ber kunjung kedusun kami ini, karena mungkin dianggap tidak begitu penting , ujar ishar.
Foto 5 Foto 6
Oleh karena itu kami sangat bersyukur kepada Allah atas kunjungan bapak kedusun kami yang memang  telah lama di idam-idamkan masyarakat kami.
Agar masyarakat tidak kecewa kami mohon bapak Gubernur dapat memberikan ceramah agama dan  tausiah agar masyarakat dusun pulau nangka bisa tercerahkan ,pinta pak kadus.
Hadir dalam acara tersebut, Wakil Bupati Bangka tengah Erzaldi Rosman johan, Kadis Kesbang Linmas, Kadis pertambangan & energi, Kadis Kesehatan, Kadis Pora, Kadis Diknas, Karo Hukum dan Sekretaris Diskominfo, H. Marwan S.Ag, serta tokoh Masyarakat sungai selan yang ikut dalam robongan.. Setelah  peresmian masjid, acara dilanjutkan dengan pembacaan yasin di Makam Kiay Jakfar Sidik. (Marwan)

Bangkai Kapal di Perairan Pulau Nangka

Pangkal Pinang, - Mercusuar di perairan Bangka Belitung, seperti di Pulau Pelepas, Selat Bangka, merupakan tujuan wisata yang potensial. Tim ekspedisi Sriwijaya mengunjungi mercusuar di Pulau Pelepas yang disebut warga setempat sebagai Pulau Lampu, Kamis (8/10).

Mercusuar tersebut dibangun pada zaman kolonial Belanda, tetapi belum diketahui tahun pembuatannya. Di atas pintu masuk ke mercusuar terdapat plakat besi yang menjelaskan mercusuar tersebut dipugar pada tahun 1893. Mercusuar itu memiliki tinggi sekitar 50 meter.

Tim ekspedisi Sriwijaya mendatangi mercusuar dengan menumpang kapal nelayan dari Dermaga Tanjung Tedung, Kabupaten Bangka Tengah. Perjalanan dengan menggunakan kapal nelayan memakan waktu sekitar 30 menit. Pulau Pelepas hanya ditunggui empat petugas penjaga mercusuar karena pulau kecil tersebut tidak berpenghuni.

Dari puncak mercusuar, pengunjung bisa melihat ke arah Selat Bangka dan memandang Pulau Bangka di kejauhan. Pengunjung juga dapat menikmati pemandangan indah berupa laut berwarna biru kehijauan dan deretan pulau-pulau berpasir putih.

Menurut Soleh, petugas penjaga mercusuar, di perairan Bangka Belitung ada tiga mercu- suar yang semuanya dibangun pada zaman Belanda, yaitu di Pulau Lampu, Pulau Pelepas, dan Pulau Dapur. Ketiga mercusuar tersebut ada penjaganya. ”Pulau ini hanya ramai saat Lebaran, banyak wisatawan lokal datang ke sini. Akan tetapi, setiap hari banyak nelayan yang beristirahat di sekitar pulau,” kata Soleh.

Soleh mengungkapkan, mercusuar di Pulau Pelepas sudah 2 tahun memakai tenaga surya untuk menghidupkan lampu suar. Sebelumnya, mercusuar tersebut menggunakan tenaga genset untuk menghidupkan lampu suar.

”Jangkauan lampu suar mencapai 16 mil atau sekitar 30 kilometer. Dulu mercusuar sangat bermanfaat untuk membantu pelaut menentukan arah, tetapi sekarang dengan adanya GPS (global positioning system) dan radar, fungsi mercusuar semakin berkurang,” kata Soleh.

Jalur perdagangan Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti mengutarakan, banyaknya mercusuar yang dibangun Belanda di perairan Selat Bangka menunjukkan ramainya jalur pelayaran di perairan tersebut. Jalur itu sudah ratusan tahun merupakan jalur pelayaran yang ramai.

Pada masa kolonial Belanda, mercusuar dijadikan pedoman para pelaut, sedangkan pada zaman Sriwijaya memakai tanda-tanda alam yang ada di Pulau Bangka, seperti Bukit Menumbing dan tanda-tanda alam, seperti hutan bakau di pantai timur Sumatera.

”Belanda masuk ke Bangka Belitung karena timah. Timah memang komoditas yang penting pada abad ke-19 sehingga Belanda mendirikan banyak benteng di pesisir Bangka. Oleh karena transportasi perdagangan timah ramai, Belanda membangun mercusuar,” kata Nurhadi.

Mengenai potensi mercusuar di Bangka Belitung sebagai wisata arkeologi, Nurhadi menuturkan, wisata arkeologi tidak bisa berdiri sendiri.

Bangkai kapal Tim ekspedisi Sriwijaya berhasil menemukan dan mendokumentasikan bangkai kapal yang tenggelam di perairan Pulau Nangka, Selat Bangka. Kapal yang tenggelam di kedalaman sekitar 17 meter tersebut bisa menjadi obyek wisata yang menarik di Selat Bangka.

Kepala Seksi Kerja Sama Direktorat Peninggalan Bawah Air Dirjen Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Yudi Wahyudin mengungkapkan, kapal itu diduga tenggelam karena terkena torpedo. Namun, karena hambatan arus yang kuat dan rendahnya jarak pandang (visibilitas) di dalam laut yang hanya 1 meter, tim ekspedisi belum berhasil mengidentifikasi bangkai kapal tersebut secara lengkap.

Menurut Yudi, koordinat bangkai kapal tersebut adalah 02 derajat 22’45.6” Lintang Selatan dan 105 derajat 43’31.5” Bujur Timur. Kapal memiliki panjang 70 meter. Kondisi bangkai kapal telah ditutupi karang dan menjadi rumah yang disukai ikan-ikan.

”Kondisi bangkai kapal relatif utuh, tidak banyak bagian kapal yang hilang. Menurut para nelayan, jarang ada orang yang mengambil besi tua dari bangkai kapal tersebut. Para nelayan hanya mengambil ikan di sekitar lokasi,” ujarnya.


sumber : arkeologi