pulau nangka

Pulau ini terletak di antara pulau bangka dengan pulau sumatra,dihuni sekitar 100KK lebih.Pulau ini masih sangat alami dan memiliki pantai yang sangat indah

Rabu, 26 Oktober 2011

Pulau Pelepas


Apabila anda berkunjung ke pulau nangka jangan ragu untuk mampir kepulau yang satu ini kira – kira butuh waktu 15 menit dari pulau nangka  untuk sampai di pulau yang indah ini menggunakan motor  laut .dijamin setelah sampai anda tidak bakalan  menyesal untuk datang ke pulau ini. tidak hanya indah pulau ini penuh dengan sejarah.








pemandangan dari atas menara


Selasa, 18 Oktober 2011

Indahnya Pantai Pasir Kulek


Pantai  ini memiliki pasir putih dan air yang jerni,pantai ini terlihat sepi hanya ramai ketika hari raya dan hari-hari tertentu,mungkin karena pantai ini jauh dari perkampungan warga pulau ini.setelah sampai di pantai ini rasanya gak mau pulang,lihat saja fotonya di bawah ini :





benar-bener indah kan.

Jumat, 14 Oktober 2011

Nganggung Setelah Selesai Sholat Ied ~ CYBERBANGKA

Nganggung Setelah Selesai Sholat Ied ~ CYBERBANGKA

Mencari Wak Wak di Pulau Nangka


        Wak Wak atau cacing laut yang dalam bahasa latinya bernama moduca ini tidak asing lagi bagi warga Pulau Nangka,hewan yang berbadan  lembut dan berbau amis ini tidak hanya di konsumsi warga namun juga dijual.
sumber foto:cetak.bangkapos.com

Menangkap hewan ini sebenarnya gampang – gampang susah,bagi yang sudah biasa menangkap hewan ini biasanya bisa mendapat ratusan dalam sekali menangkap,tapi yang belum pernah biasanya akan terasa susah untuk mendapatkannya,memang perlu keahlian khusus dan kesabaran.
  
Mencari cacing ini baru bisa ketika air laut sedang surut karena hewan ini hidup di pasir pantai,warga pulau nangka mencari wak wak ini di sebelah timur pulau ini.biasanya hanya kalangan ibu – ibu mencari hewan ini.

Menurut cerita warga awal mula wak wak ini di kenal warga pualu nangka setelah ada seorang peneliti yang datang ke pulau ini untuk meneliti wak wak tersebut.dari situlah warga mengenal wak wak dan cara menangkapnya.

Untuk menangkapnya biasanya warga menggunakan seutas rotan untuk dimasukan di dalam tempat persembunyiannya,kalau terasa bergarak itu bertanda wak waknya ada di dalam tempat itu.

Untuk menghilangkan bau amis wak wak ini sebelum di konsumsi atau dijual terlebih dahulu di jemur dalam waktu sekitar setengah hari di bawah sinar matahari yang sangat panas,sebelum di jemur wak wak ini harus dibalik tubuh bagian dalamnya untuk membersihkan kotoran yang ada dalamnya.untuk mengkonsumsinya biasanya cukup di goreng atau di tumis rasanya sangat gurih.
bagi yang penasaran datang saja ke pulau ini,hhe


Selasa, 11 Oktober 2011

Pembangunan Poskesdes di Pulau Nangka

-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, melalui anggaran APBN sebesar Rp300 juta akan mendirikan pos kesehatan desa (Poskesdes) di Pulau Nangka yang merupakan salah satu pulau terpencil.

Kabid Bina Program Dinas Kesehatan Bangka Tengah, Fajri, di Koba, Jumat, menyatakan, pembangunan Poskesdes di pulau terpencil itu, dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat setempat.

Bangka Tengah telah memiliki 30 Poskesdes, 17 Puskesmas Pembantu (Pustu) dan tujuh Puskesmas. Fasilitas Poskesdes memberikan pelayanan kesehatan persalinan termasuk penyakit malaria dan demam berdarah yang rawan terjadi saat musim hujan.

Ia menjelaskan, Pulau Nangka berpenduduk kurang lebih 400 jiwa dan 108 kepala keluarga (KK), membutuhkan pelayanan kesehatan dari tenaga bidan yang terlatih yang ditempatkan di Poskesdes.

Menurut dia, Poskesdes yang akan dibangun terdiri dari dua bangunan yakni bangunan pelayanan kesehatan dan bangunan rumah dinas tenaga kesehatan.

Tenaga bidan yang ditempatkan di Poskesdes, kata dia, merupakan warga asli Pulau Nangka yang disekolahkan oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah untuk mendapatkan pendidikan kebidanan.

"Untuk mencari bidan yang mau bertugas di Pulau Nangka sangat sulit maka kami mengeluarkan solusi untuk menyekolahkan satu orang warga Pulau Nangka yang memiliki kemampuan untuk bersekolah kebidanan," katanya yang menyatakan warga Pulau Nangka yang telah menjadi bidan bernama Umi Kalsum.

Menurut dia, dengan tersedianya bidan yang berasal dari penduduk asli Pulau Nangka, secara otomatis pelayanan kesehatan akan lebih maksimal.

Menurut dia, ke depannya berbagai fasilitas kesehatan akan terus dibangun oleh pemerintah daerah menggunakan dana pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

"Kami mengupayakan agar fasilitas layanan kesehatan dapat terus dibangun terutama di daerah kepulauan dan di pelosok desa, sehingga masyarakat dapat menikmati pelayanan kesehatan seperti warga masyarakat di perkotaan," katanya.

Seperti diketahui, Poskesdes merupakan pelayanan yang meliputi upaya-upaya promotif, preventif, dan kuratif yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan (terutama bidan) dengan melibatkan kader atau tenaga sukarela Iainnya.

Kabupaten Bangka Tengah yang memiliki luas 2.155,77 kilometer atau 215.577 hektar dengan sebelah Timur berbatasan dengan Laut Cina Selatan dan sebelah Barat berbatasan dengan Selat Bangka dan garis pantai 195 kilometer dikelilingi oleh 12 pulau-pulau kecil antara lain Pulau Nangka, Semujur, Ketawai, Bubuar, Busung Asam dan beberapa pulau kecil lainnya.

Dan diantara beberapa pulau tersebut, Pulau Nangka dan Pulau Semujur merupakan pulau yang memilik penduduk yakni sebanyak 108 kepala keluarga di Pulau Nangka dan 40an kepala keluarga mendiami Pulau Semujur.

sumber: www.sigapbencana-bansos.info

Makam Belanda di Pulau Pelepas

Bukti bahwa Pulau Pelepas yang dalam peta navigasi tertulis dengan nama Pulau Nangka ini pernah dihuni oleh orang Belanda adalah dengan ditemukannya seonggok makam bertuliskan nama seorang Belanda yang meninggal 15 April 1894. Orang ini disebut-sebut sebagai petugas yang menunggu mercusuar yang terdapat di puncak bukit Pulau Pelepas.

Selain makam Belanda, paling tidak terdapat empat makam lainnya di Pulau Pelepas. Dua di anataran makam seorang perempuan dan anak-anak berkebangsaan Indonesia. Perempuan dan anak-anak ini merupakan istri dan anak petugas penjaga mercusuar yang wafat di tempat itu di era setelah kemerdekaan.

Pulau Pelepas juga disebut oleh masyarakat dengan nama Pulau Lampu. Dinamakan demikian karena dari pulau tersebut terpancar cahaya lampu sebagai penerangan bagi pelayaran di Selat Bangka, laut yang terletak di antara pulau Bangka dan Sumatera.

Cahaya lampu tersebut berasal dari sebuah mercusuar kuno yang telah ada sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda. Bangunan yang dinamakan Mercusuar H.M. Koningin Wilhelmina ini dibangun pada tahun 1893. Itu yang terpampang pada plakat besi yang menggantung di pintu Mercusuar.

Tinggi Mercusuar ini sekitar 50 meter atau 60 meter dari permukaan air laut. Dari puncaknya kita dapat melihat pemandangan laut yang luar biasa indah. Bahkan dari ketinggian menara, kita juga dapat memandang sebagaian pesisir Pulau Bangka.

Pulau Pelepas dan mercusuarnya menjadi daya tarik wisata tersendiri. Meskipun demikian, pemerintah setempat belum mengeksplorasinya dengan baik. Termasuk terhadap sejumlah makam kuno di dalamnya, terlantar begitu saja.


Sumber : bangkapos.com

Sabtu, 20 Agustus 2011

Pondok Wisata di Pulau nangka

Koba, Bangka Tengah, 25/1 (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, pada 2011 akan membangun dua unit pondok wisata di dua pulau terpencil untuk menyediakan fasilitas wisata bagi para wisatawan yang berkunjung ke daerah itu.

"Dua pondok wisata yang masing-masing akan menelan anggaran Rp114 juta ini dibangun di Pulau Semujur dan Pulau Nangka berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Bangka Tengah," ujar Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Tengah, Robain Zul, di Koba, Selasa.

Menurut dia, pondok wisata tersebut nantinya juga berfungsi sebagai tempat peristirahatan para nelayan yang sedang melaut, terutama saat menghadapi gelombang tinggi dan angin kencang yang membahayakan keselamatannya.

"Pembangunannya akan segera direalisasikan dalam waktu dekat agar pondok wisata dapat difungsikan sesegera mungkin, sekaligus merealisir program kepariwisataan daerah yang potensinya cukup besar," ujarnya.

Ia mengatakan, dengan dibangunnya pondok wisata diharapkan dapat menciptakan minat masyarakat lokal maupun pendatang untuk berwisata di dua pulau tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah penduduk Pulau Semujur yang mayoritas suku Buton dan berprofesi sebagai nelayan, kurang lebih 400 jiwa. Sebanyak 50 Kepala Keluarga (KK) menetap di Pulau tersebut.

Pada 2009 di Pulau Semujur telah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah sehingga suasana pulau pada malam hari tidak gelap gulita.

Keindahan panorama laut yang terpampang di hadapan pulau dan beragamnya aneka ikan laut menjadikan pulau ini sering menjadi tujuan wisata masyarakat lokal untuk menginap sembari memancing ikan bersama keluarga.

Kabupaten Bangka Tengah memiliki luas 2.155,77 kilometer atau 215.577 hektar dikelilingi oleh 12 pulau-pulau kecil dengan panjang garis pantai kurang lebih 195 kilometer.

Sebanyak 12 pulau terdiri dari Pulau Bebuar, Pulau Panjang, Pulau Panjang, Pulau Pelepas, Pulau Ketawai, Pulau Semujur, Pantai Keranji, Pantai Tanah Merah, Pantai Batu Belubang, Pantai Kedimpel, Pantai Penyak, Pantai Karang Jahe, Pantai Tanjung Langka dan Pantai Batu Beriga.

sumber : bangkatengahkab.go.id

Kamis, 18 Agustus 2011

Kebanjiran Udang

Beberapa hari yang lalu Nelayan pulau nangka mendapatkan udang yang cukup banyak,dalam sehari ada yang mendapatkan 30,40 bahkan ada yang 80 kg.namun ada juga nelayan yang kurang beruntung.mungkin sudah rezeki masing-masing.hehe